Kisah Bocah Di Gunungkidul – Saban pagi di Padukuhan Jeruken RT 06, Desa Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, biasanya dipenuhi suara anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Namun, suasana itu tidak terlihat di salah satu rumah sederhana di tengah perkampungan tersebut.
Di rumah itu, Ahmad Tri Efendi, bocah berusia 9 tahun, tidak mengenakan seragam sekolah seperti teman-temannya. Ia justru sibuk merawat ibunya yang terbaring sakit di rumah.
Kisah Bocah 9 Tahun di Gunungkidul Berhenti Sekolah Demi Merawat Ibu
Fendi, begitu ia biasa dipanggil, merupakan bocah kelahiran 2015 yang seharusnya duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Namun sejak sekitar empat tahun lalu, ia memutuskan berhenti sekolah demi merawat ibunya, Siaminah (46), yang mengalami kebutaan dan stroke.
Hari-hari Fendi kini dihabiskan di rumah sederhana yang ia tempati bersama keluarganya. Rumah tersebut berdinding batako yang belum diplester dengan lantai semen sederhana.
Rumah itu dibangun oleh ayahnya, Slamet (54), ketika masih bekerja sebagai buruh bangunan. Dari hasil kerja kerasnya, sebuah rumah sederhana berhasil berdiri untuk keluarganya.
Kondisi Ibu Memburuk Setelah Mengalami Stroke dan Kebutaan
Namun tidak lama setelah rumah tersebut selesai diperbaiki, kondisi kesehatan sang ibu mulai menurun.
Awalnya, Siaminah hanya sering mengalami sakit kepala sebelah. Lambat laun penglihatannya mulai kabur hingga akhirnya tidak bisa melihat sama sekali.
Kondisinya semakin memburuk ketika ia juga mengalami stroke dan kini lebih banyak terbaring di rumah. Sejak saat itu, Fendi mulai membantu ayahnya merawat ibunya.
Cobaan tidak berhenti di situ. Sang ayah yang sebelumnya masih sehat kini juga mengalami gangguan kesehatan. Penglihatannya mulai kabur hingga harus meraba-raba saat beraktivitas.
Baca Juga : Dapat Becak Listrik, Penarik Becak Di Ngawi Tak Kelelahan Lagi
Tetap Membantu Keluarga Meski Masih Sangat Muda
Di tengah kondisi tersebut, Fendi akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih berhenti sekolah agar bisa membantu merawat ibunya.
Fendi merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya, Wahyu Adi Saputra (23), kini bekerja setelah lulus dari sekolah menengah pertama dan menjadi tulang punggung keluarga.
Sementara kakak keduanya, Ayu Ambarwati (14), masih bersekolah di tingkat SMP.
Meski masih kecil, Fendi juga berusaha membantu perekonomian keluarga. Ia sesekali mencari rumput untuk neneknya, Wakinem, dengan upah seadanya.
Uang yang didapat memang tidak seberapa, tetapi cukup membantu kebutuhan sehari-hari keluarga.
Walau para guru dan warga sekitar sudah beberapa kali membujuknya agar kembali ke sekolah, Fendi tetap memilih tinggal di rumah. Ia khawatir meninggalkan ibunya sendirian.
Di usia yang masih sangat muda, Fendi menjalani kehidupan yang tidak mudah. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan tanggung jawab besar, merawat ibunya sambil sesekali membantu pekerjaan kecil untuk keluarganya.
Situs Macan Empire yang resmi dan penuh kesempatan menang hari ini!

