Cerita Pilu ABK Fandi – Atmosfer sendu begitu terasa di salah satu ruang persidangan di Majelis hukum Negara Batam pada Senin( 23/ 2/ 2026) malam. Hari itu, 6 ABK yang jadi tersangka permasalahan penyelundupan sabu 2 ton mengantarkan pembelaannya usai dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut universal.
Di hadapan majelis hakim yang diketuai Hakim Tiwik bersama 2 anggota serta 3 jaksa dari Kejari Batam, para tersangka menumpahkan seluruh isi hatinya.
Salah satunya Fandi Ramadhan( 25). Malam itu, tangannya nampak menggenggam 4 lembar kertas terlipat serta sedikit kusut. Warnanya, itu berkas pembelaan yang ia tulis sendiri serta diberi judul” Tersesat di Negara Sendiri.”
Majelis hakim mempersilakannya membaca berkas pembelaan. Atmosfer ruang persidangan yang disesaki wisatawan tiba- tiba sepi.
Cerita Pilu ABK Fandi Kepada Majelis Hakim
Suara Fandi awal mulanya pelan. Tangannya meningkatkan lembaran kertas. Dia memperkenalkan diri dengan mantap. Berupaya memantapkan diri walaupun hatinya rapuh.
” Nama aku Fandi Ramadhan, anak awal dari 5 bersaudara, usia 25 tahun.”
Ia setelah itu diam sejenak. Mengendalikan irama nafas yang mulai tidak beraturan. Di dikala yang sama, terdengar isak tangis dari sofa wisatawan. Wanita paruh baya itu nampak berurai air mata. Warnanya, perempuan itu merupakan nenek Fandi. Walaupun mengguna sofa roda, ia seksama menjajaki sidang Fandi sembari menangis.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Buat Rumah Warga Roboh Di Situbondo Jatim
Sambil memandang kertas di tangannya, Fandi mulai menceritakan tentang hidupnya yang lahir dari keluarga simpel. Tentang pembelajaran yang ditempuh di Politeknik Malahayati Aceh dengan keterbatasan ekonomi, sampai kemauan menolong orang tua dengan bekerja selaku awak kapal.
Bagi Fandi, kedua orang tuanya menjajaki proses ia melamar bekerja sampai diterima selaku awak kapal. Mulai dari mengurus dokumen sampai dibantu seorang buat bekerja di kapal Sea Dragon. Selama proses itu, ia tidak sempat menemukan uraian kalau kapal itu hendak mengangkat benda terlarang. Ia ditempatkan selaku penanggung jawab mesin.
“ Sepanjang hidup aku, aku apalagi belum sempat memandang semacam apa benda itu,” ucapnya.
Tangisan Fandi Rusak di Dekapan Si Nenek
Sehabis itu, Fandi mendatangi serta memeluk neneknya yang terdiam seakan olah terpaku. Seketika tangisan rusak dari suara si nenek memandang cucunya. Tidak lama setelah itu, Fandi kembali digiring mengarah mobil tahan yang telah menunggu buat membawanya kembali ke lapas.
Tersesat di Negara Sendiri Lembar Pembelaan ABK Dituntut Hukuman Mati yang Menyayat Hati.
Situs Paman Empire yang resmi dan penuh kesempatan menang hari ini!

